January 25, 2008

Renovasi Sekolah, Reality Show ato Nyindir Pemerintah?

Filed under: Opini

Renovasi Sekolah
anteve, Minggu, pkl. 09.30 WIB

Sedih rasanya melihat Indonesia. Pendidikan dianaktirikan. Pemerintah seolah-olah segan mengeluarkan dana lebih besar untuk meningkatkan taraf pendidikan. Coba lihat reality show di anteve berjudul Renovasi Sekolah.
Bayangkan kondisi sekolah yang hampir hancur, tidak kondusif dan kalo hujan harus merapat ke tempat kering menghindari rembesan air. Anak-anak itu tampak kasihan harus memohon agar sekolahnya diperbaiki. Menyedihkan ;-(
Jadi teringat dengan kisahnya Andrea Hirata di Laskar Pelangi. Kondisi ruang belajar mereka yang tak lebih baik dari kandang ternak.
Siapa sih yang salah?
Kayaknya pemerintah Indonesia berkepala batu deh, sebab kondisi menyedihkan itu telah dipublish secara terang-terangan di TV. Cuma kemasannya aja yang dibuat seolah ada yang berbaik hati membantu pemerintah memperbaiki sekolah. Menyedihkan sekali. Saatnya pemerintah buka mata, buka hati, buka pikiran, buka semuanya untuk mensejahterakan rakyatnya.

January 24, 2008

Beauty and The Beautiful

Filed under: Opini

Dari fm_pabasko_group@yahoogroups.com-bst_fyna1986

Cantiknya seorang wanita itu sebagai GADIS,
bukan karena merah berkilau lipstiknya;
pada bibir senyuman kosmetik,
tetapi pada keperibadiannya yang terpelihara,
kelembutan kesopanan yang menghiasi jiwa.

Cantiknya seorang wanita itu sebagai REMAJA,
tidak pada kulitnya yang putih mulus terbuka;
untuk menggoda pandangan mata,
tetapi pada kehidupannya yang terjaga,
dari menjadi mangsa dunia.

Cantiknya seorang wanita itu sebagai HAWA,
tidak hanya karena bijak menuntun iman kaum Adam;
tetapi juga menjadi pembakar semangat perwira,
menjadi pendukung perjuangan syuhada.

Cantiknya seorang wanita itu sebagai ANAK,
bukan mereka yang menjerat diri pada lembah kedurhakaan;
tetapi menjadi penyelamat ibu-bapak,
pada hari kebangkitan bermula.

Cantiknya seorang wanita itu sebagai ISTERI,
bukan karena peran kerjanya dalam rumahtangga;
tetapi sentiasa bersama,
menempuh badai disisi suami tercinta.

Cantiknya seorang wanita itu sebagai MENANTU,
bukan karena kemewahan dimata;
tetapi bijak dalam menjauhi persengketaan,
menjadi penghibur hati layaknya permata kehidupan.

Cantiknya seorang wanita itu sebagai IBU,
bukan terletak pada kelahiran anak;
dalam setiap keluarga baru setelah pernikahan,
tetapi dibawah payung kemuliaan,
membuai anak dikala suami menjalin impian.

Cantiknya seorang wanita itu sebagai MERTUA
tidak hanya karena ketinggian martabatnya di mata menantu,
tetapi jalinan kasih sayangnya,
setulus hati memancarkan kasih setara pada semua

Cantiknya seorang wanita itu sebagai NENEK
bukan memberi harta dan meninggalkan warisan dunia;
sehingga generasi lupa;
tetapi membawa wibawa layaknya pembina
menjaring teladan para anbia pada anak bangsa

Cantiknya seorang wanita itu sebagai WARGANEGARA
bukan karena menyandang puncak dunia
tetapi bijak menangkis rintangan
peka membela nasib dan harga diri negara
menjadi tulang punggung keteguhan semua

Cantiknya wanita itu sebagai INTELEKTUAL
bukan karena menjadi sebutan
sehingga menjulang keegoan
tetapi dalam mencari ilmuan
menyalakan obor menerangi dunia profesi

Cantiknya wanita itu sebagai MUSLIMAH
bukan karena keindahan rupa parasnya
sehingga menjadi hiasan mata saja
tetapi berpegang Akidah Solehah
di balik tirai jiwa
memendam rindu kekasih pasrah di atas sajadah
mengharap keridhaan kehidupan hakiki

Beauty elevates our hearts, awakens our souls with sweet excitement
and appreciation, and then becomes the esthetic of our inner self…..
[M. Fethullah Gullen]

Parlan
Sumber:

Puisi : MPnya Siti Kaksyah (dgn bahasa malaysia), diubah-ubah tanpa
izin..

Judul : Artikelnya M. Fethullah Gullen, The Fountain vol.Jan-March
2005

January 16, 2008

Jurusan Yang Islami

Filed under: Opini

Jika kita sekarang dalam masa kuliah, tentu jurusan merupakan tempat kita sering berinteraksi, baik itu dengan teman seangkatan, dengan senior, dengan junior, dengan dosen, dengan pembimbing akademik, dengan karyawan jurusan, dengan karyawan pustaka, dengan tamu yang sengaja berkunjung untuk keperluan tertentu, bertemu dengan suasana akademik seperti seminar, penelitian, diskusi, bertemu dengan tabiat dan tingkah laku dosen dan mahasiswa dalam kuliah, bertemu dengan mata kuliah yang terkadang mudah, biasa saja atau terkadang sulit, bertemu dengan suasana ujian, bertemu dengan peraturan-peraturan akademik yang kadang memberatkan dan sebagainya. Semuanya merupakan ladang amal bagi orang yang mengaku dirinya aktivis dakwah kampus. Semuanya merupakan sarana baginya untuk melatih diri sebelum terjun ke masyarakat. Semuanya merupakan tantangan yang harus dihadapi dan dilewati baik dengan jalan yang mulus maupun berliku. Memang hasilnya tidak terjadi secara instant, butuh proses. Bukankan tabiat jalannya sendiri yang sukar, panjang dan umur kita tidak sebanding dengan panjangnya umur dakwah itu sendiri.
Seringkali kita merasa kegiatan-kegiatan dakwah diluar lebih menantang dan lebih besar dibandingkan dengan dakwah jurusan. Kita menganggap bahwa di jurusan telah ada orang-orang yang diamanahkan disana, sehingga kita tidak perlu lagi beraksi disana dan seringkali menghindar dan hanya datang jika ada keperluan akademik saja. Bahkan kita tidak mau lagi berinteraksi dengan teman-teman seangkatan hanya karena kita adalah seorang yang merasa lebih baik dari mereka, begitu juga dengan mereka, karena tidak ada komunikasi, mereka semakin menjauh dari kita. Akhirnya hak mereka untuk mendapatkan cahaya Islam dari kita, tidak kita berikan. Apakah kita bisa dibilang amanah, ketika kewajiban kita, kita tinggalkan?
Jurusan yang Islami. Memang ini sebuah angan-angan yang bukan berarti tidak dapat diwujudkan. Tidak ada yang salah dan janggal dengan cita-cita kita terhadap jurusan. Kita menginginkan terjadi peningkatan suasana kehidupan akademis yang ilmiah dan Islami, bukan sebaliknya. Bukankah cita-cita itu luhur. Semua orang yang masih berakal sehat dan tidak dirasuki oleh keinginan tertentu, pasti memandang cita-cita itu bagus dan tidak menyimpang, mengapa kita tidak giat dalam mewujudkan ?.
Kita menginginkan Mahasiswa/wi yang berpakaian rapi, mahasiswi menutup aurat dengan baik. Bukankah itu cita-cita yang baik? Kita menginginkan suasana kuliah dan labor yang nyaman yang memperhatikan waktu-waktu ibadah kita sebagai muslim, sehingga tercipta kondisi kuliah yang efektif dan ibadah yang kita lakukan tepat waktu, bukankah itu cita-cita yang bagus? Kita menginginkan dalam ujian tidak terjadi kecurangan, seperti melihat jimat dan mencontek Bukankah itu yang namanya orang yang terpelajar. Sadar mana yang baik dan mana yang buruk. Kita menginginkan disaat waktu shalat masuk, semua civitas akademika menghentikan kesibukannya dan melakukan shalat berjamaah. Nggak ada salahnya kan? Justru dengan shalat tepat waktu, penataan waktu kita dapat dilakukan dengan baik. Kita menginginkan pembinaan jurusan adalah pembinaan yang berkualitas, mahasiswa baru dirangsang untuk berpikir, sering berinteraksi dan kritis terhadap suatu permasalahan serta memikirkan solusi yang tepat. Kita tidak mengharapkan pembinaan mahasiswa baru menjadi ajang balas dendam antara senior terhadap juniornya, kita tidak ingin junior dizalimi oleh seniornya. Kita tidak ingin junior menjadi manja dan terlalu bergantung kepada teman-temannya. Kita juga tidak ingin junior tidak menghargai seniornya. Bukankah itu tujuan yang mulia?
Kita menginginkan budaya bermusik diisi dengan musik yang mengingatkan kita akan kehidupan kita, evaluasi diri, semangat berjuang, bukan musik yang mengumbar nafsu dan percintaan, bukan musik yang menghancurkan, bukan musik yang melenakan, bukan musik yang menjerumuskan.
Kita menginginkan budaya salam, sapa, senyum, santun menghiasi kehidupan di jurusan. Bukankah itu budaya yang baik?
Masih banyak lagi cita-cita kita terhadap jurusan yang Islami. Namun dari sekian banyak cita-cita itu, tentu tidak akan terwujud jika kita tidak melakukan apa-apa. Tentu cita-cita itu hanya angan-angan belaka. Tidak ada salahnya bkita memulai dari hal yang kecil. Seringkali kita sibuk dengan hal-hal yang besar, tetapi kita melupakan hal-hal yang kecil. Mari kita tunai kewajiban kita, kita berikan hak teman-teman kita, dosen-dosen kita, adik-adik kita, kakak-kakak kita, dan seluruh civitas akdemika jurusan lainnya. Semoga cita-cita kita menjadikan Jurusan yang Islami dapat terwujud.

(Inspirasi : surat tausyiah dari seorang Ukhti)

January 10, 2008

1 Muharram 1429 H

Filed under: Opini

Wahai Generasi Muda Islam : Inilah Tahun Baru Kita !!

Mulut saya perlahan mengucapkan Subhanallah ketika kalimat diatas pertama kali saya lihat terpasang kokoh di atas pintu Masjid Jihad, masjid dekat wisma saya. Betapa semangatnya pengurus masjid berusaha menyadarkan generasi mudanya terhadap Islam. Saya salut…

Seringkali saya merasa sedih melihat saudara-saudara seiman yang larut dalam metafora perayaan berlebihan ketika menyambut tahun baru masehi. Mereka hanyut dalam suasana meriah perayaan, yang menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Walaupun saya tidur sejak jam 22.00 WIB pada tanggal 31 Desember 2007, namun koran bertanggal 1 Januari 2008, tidak dapat menyembunyikan betapa meriahnya perayaan menyambut tahun baru di beberapa daerah malam itu. Di Bukittinggi misalnya, kawasan wisata “Jam Gadang” penuh sesak dengan suka cita menyambut detik-detik pergantian tahun. Bahkan di koran itu saya lihat, sebuah keluarga yang membawa anaknya yang masih kecil, sehingga ketika si anak telah berada di alam mimpinya, si ibu terpaksa mencari tempat yang nyaman agar anaknya itu tidak bangun diantara orang-orang yang berdesakan. Mudah-mudahan anak itu ditidurkan oleh Allah untuk menghindarkannya dari suasana jahiliah yang dikerjakan oleh orang tuanya, seperti riwayat Rasulullah ketika beliau muda, yang tertidur saat mencoba-coba mengikuti pesta jahiliah yang diadakan kaumnya.

Pagi, tanggal 1 januari 2007, saya jogging di sekitar wisma. Perlahan lewat beberapa motor yang membawa pasangan-pasangan muda yang tampak mengantuk. Mungkin mereka adalah kakak beradik, pikiran saya ketika mencoba untuk berhusnuzhon. Namun dari tampilannya, mereka tidak mungkin kakak beradik. Kalau dilihat mereka seumuran, tampak mesra dengan pegangan yang erat, walaupun kecepatannya cuma 30 km/jam. Pertanyaan muncul di benak saya. Mereka ini siapa? Darimana?, apa yang mereka lakukan tadi malam? Kok pulangnya baru pagi? Mereka tidur dimana? Ceweknya gimana? Apa tidak dilarang sama orangtuanya? Atau jika dia mahasiswi, apa tidak dilarang sama ibu atau bapak kosnya? Semudah dan semurah itukah cewek-cewek saat ini, yang mau saja dibawa oleh cowoknya ketika perayaan tahun baru dan baru pulang pagi hari, tanpa merasa curiga sedikitpun? Atau si cewek juga menikmati keadaan itu?. Saya tidak habis pikir. Ternyata perlahan-lahan kita telah berada di masa Jahiliah. Saya merasa seperti baru turun gunung, tidak mengetahui peradaban manusia saat ini.

Beberapa personil wisma, turut serta dalam hegemoni perayaan dengan menghabiskan malam itu di warnet. Walaupun mereka mengaku tidak ikut merayakan, namun ketika turut serta memanfaatkan malam itu untuk keluar rumah dan sepulangnya mengaku “Saya di warnet tadi malam setahun”. Apa tidak merayakan itu namanya?. Beberapa personil wisma lain bahkan ikut merayakan secara terang-terangan dengan bakar ini-itu dengan teman seangkatan, dan beberapa kondisi lainnya yang menunjukkan potret buruk wisma aktifis dakwah kampus malam tahun baru.

Hari-hari berlanjut dan tibalah saatnya malam tahun baru Islam, pada maghrib tanggal 9 Januari 2008. Ternyata suasana sepi. Ba’da Isya di Masjid jihad diadakan Tabligh Akbar. Masjid hanya diisi oleh orang-orang lanjut usia, anak-anak TPA yang dipaksa oleh Ustadznya untuk mabit, dan beberapa orang perwakilan pemuda yang terpaksa datang agar tidak malu karena dipanggil berulang kali oleh pembawa acara dengan pengeras suara yang dapat terdengar dalam jarak 400 meter. Ironis sekali…

Spanduk “Wahai Generasi Muda Islam : Inilah Tahun Baru Kita !!” mudah-mudahan mampu menggerakkan generasi muda Islam untuk sadar. Islam mempunyai cara tersendiri mengatur umatnya dan dijamin selamat dunia dan akhirat. Mengapa kita musti mengikuti budaya orang lain?
(Agush, Wisma Mujahid, 10 Januari 2008)

August 9, 2007

Monukoro Boo yang Lucu, tapi….

Filed under: about me, Opini

Sekilas tokoh kartun ini tampak lucu. Wajah imut mereka berdua sering menghiasi kertas-kertas binder, tas sekolah, kantong Handphone, Kotak/kantong pensil, dan banyak lagi wajah mereka menghiasi pernak-pernik yang sering dipakai oleh anak-anak maupun remaja Islam.

Sekilas memang babi ini sangat lucu. Dua babi berwarna hitam dan putih ini tampak polos. Menarik memang. Tapi yang namanya babi tetaplah babi. Dalam Islam babi tidak pernah dihalalkan. Seolah-olah gambar kartun ini mencirikan bahwa babi itu adalah binatang yang lucu dan tidak patut untuk dijauhi. Itu bagi kristen dan agama lain tentunya. Namun bagi Islam, yang namanya babi harus di jauhi.

Saya teringat beberapa waktu lalu mengomentari kantong handphone dan kotak pensil seorang teman dengan gambar kartun kedua babi hitam-putih ini dan juga ada kartun anjing.

"Ancak yo kantong HP, jo kotak pensil iko, tapi salahnyo gambarnyo babi jo anjiang". ("Bagus ya, kantong HP dan kotak pensil ini, tai salahnya, gambarnya babi dan anjing.")

Langsung saja si pemiliknya marah, karena ungkapan babi jo anjiang terasa kasar di telinga seorang yang beragama Islam. Tapi faktanya memang demikian. Gambar kartun itu adalah babi jo anjiang. Teman-teman yang  lain yang memperhatikan menjadi tertawa dan mengejek yang punya kedua barang tersebut.

Pada kesempatan lain, saya mengamati bindernya adik saya. Sekarang di kalangan anak-anak SD di Padang panjang, sedang tren mengoleksi kertas binder dengan gambar kartun warna-warni. Disaat membalik-balik kertas didalam binder tersebut, saya juga menemukan gambar monokuro boo ini. Lalu saya tanyakan kepada adik saya. "Ini babi kan?" "Iya" jawab adik saya. Kok mengoleksi gambar babi? saya tanya lagi. Dia hanya diam. Seolah-olah babi tidak layak untuk di jauhi. 

Ternyata kedua binatang yang sangat dijauhi umat Islam ini, dibuat sedemikian lucu sehingga umat Islam pun suka kepada mereka. Yang menjadi pertanyaan. Untuk apa kartun binatang ini harus dibuat lucu?. Mengapa justru babi dan anjing. Mengapa tidak binatang lain saja? Siapakah yang menciptakan karakter-karakter ini? Siapakah target pasar mereka?.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di benak saya. Saya berusaha mereka-reka apa tujuan dari pembuatan karakter ini. Menurut saya ini adalah salah satu taktik untuk menjauhkan umat Islam dari salah satu syariat Islam akan sesuatu yang haram. Babi dan Anjing adalah haram, bahkan kedua binatang ini adalah jenis najis Mughalazah, najis berat. Membersihkannya saja harus tujuh kali dengan air satu kali diantaranya dengan tanah. Ternyata usaha-usaha kecil seperti ini mampu menjauhkan umat Islam dari syariatnya. Umat Islam harus lebih memperhatikan mainan anak-anak mereka. Umat Islam harus peka terhadap segala bentuk usaha-usaha untuk menjauhkan mereka dari syariat Islam. Jangan sampai suatu saat nanti babi dan anjing berubah status menjadi makanan yang halal bagi umat Islam

Agustus 2007

Guswanto