Wahai Generasi Muda Islam : Inilah Tahun Baru Kita !!
Mulut saya perlahan mengucapkan Subhanallah ketika kalimat diatas pertama kali saya lihat terpasang kokoh di atas pintu Masjid Jihad, masjid dekat wisma saya. Betapa semangatnya pengurus masjid berusaha menyadarkan generasi mudanya terhadap Islam. Saya salut…
Seringkali saya merasa sedih melihat saudara-saudara seiman yang larut dalam metafora perayaan berlebihan ketika menyambut tahun baru masehi. Mereka hanyut dalam suasana meriah perayaan, yang menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Walaupun saya tidur sejak jam 22.00 WIB pada tanggal 31 Desember 2007, namun koran bertanggal 1 Januari 2008, tidak dapat menyembunyikan betapa meriahnya perayaan menyambut tahun baru di beberapa daerah malam itu. Di Bukittinggi misalnya, kawasan wisata “Jam Gadang” penuh sesak dengan suka cita menyambut detik-detik pergantian tahun. Bahkan di koran itu saya lihat, sebuah keluarga yang membawa anaknya yang masih kecil, sehingga ketika si anak telah berada di alam mimpinya, si ibu terpaksa mencari tempat yang nyaman agar anaknya itu tidak bangun diantara orang-orang yang berdesakan. Mudah-mudahan anak itu ditidurkan oleh Allah untuk menghindarkannya dari suasana jahiliah yang dikerjakan oleh orang tuanya, seperti riwayat Rasulullah ketika beliau muda, yang tertidur saat mencoba-coba mengikuti pesta jahiliah yang diadakan kaumnya.
Pagi, tanggal 1 januari 2007, saya jogging di sekitar wisma. Perlahan lewat beberapa motor yang membawa pasangan-pasangan muda yang tampak mengantuk. Mungkin mereka adalah kakak beradik, pikiran saya ketika mencoba untuk berhusnuzhon. Namun dari tampilannya, mereka tidak mungkin kakak beradik. Kalau dilihat mereka seumuran, tampak mesra dengan pegangan yang erat, walaupun kecepatannya cuma 30 km/jam. Pertanyaan muncul di benak saya. Mereka ini siapa? Darimana?, apa yang mereka lakukan tadi malam? Kok pulangnya baru pagi? Mereka tidur dimana? Ceweknya gimana? Apa tidak dilarang sama orangtuanya? Atau jika dia mahasiswi, apa tidak dilarang sama ibu atau bapak kosnya? Semudah dan semurah itukah cewek-cewek saat ini, yang mau saja dibawa oleh cowoknya ketika perayaan tahun baru dan baru pulang pagi hari, tanpa merasa curiga sedikitpun? Atau si cewek juga menikmati keadaan itu?. Saya tidak habis pikir. Ternyata perlahan-lahan kita telah berada di masa Jahiliah. Saya merasa seperti baru turun gunung, tidak mengetahui peradaban manusia saat ini.
Beberapa personil wisma, turut serta dalam hegemoni perayaan dengan menghabiskan malam itu di warnet. Walaupun mereka mengaku tidak ikut merayakan, namun ketika turut serta memanfaatkan malam itu untuk keluar rumah dan sepulangnya mengaku “Saya di warnet tadi malam setahun”. Apa tidak merayakan itu namanya?. Beberapa personil wisma lain bahkan ikut merayakan secara terang-terangan dengan bakar ini-itu dengan teman seangkatan, dan beberapa kondisi lainnya yang menunjukkan potret buruk wisma aktifis dakwah kampus malam tahun baru.
Hari-hari berlanjut dan tibalah saatnya malam tahun baru Islam, pada maghrib tanggal 9 Januari 2008. Ternyata suasana sepi. Ba’da Isya di Masjid jihad diadakan Tabligh Akbar. Masjid hanya diisi oleh orang-orang lanjut usia, anak-anak TPA yang dipaksa oleh Ustadznya untuk mabit, dan beberapa orang perwakilan pemuda yang terpaksa datang agar tidak malu karena dipanggil berulang kali oleh pembawa acara dengan pengeras suara yang dapat terdengar dalam jarak 400 meter. Ironis sekali…
Spanduk “Wahai Generasi Muda Islam : Inilah Tahun Baru Kita !!” mudah-mudahan mampu menggerakkan generasi muda Islam untuk sadar. Islam mempunyai cara tersendiri mengatur umatnya dan dijamin selamat dunia dan akhirat. Mengapa kita musti mengikuti budaya orang lain?
(Agush, Wisma Mujahid, 10 Januari 2008)