“Pisang yang masak kupotong tipis-tipis, lalu kuletakkan di atas sebuah piring kecil, lalu kutaburi dengan meses dan tepung gula. Susu kental ku tambahkan sedikit untuk menambah manis dan enaknya pisang yang kubuat. Kreasiku ini kujual ke teman-temanku yang sering bermain ke rumah. Untuk satu pisang kujual seribu rupiah sedangkan setengah pisang kujual lima ratus rupiah. Kadang-kadang mereka merengek ke orangtua mereka untuk membeli pisang kreasiku. Betapa senangnya hatiku ketika banyak yang suka dengan pisang kreasiku. Dengan modal uang belanja harian yang diberikan oleh ayah, aku bisa membeli bahan-bahan daganganku dan memperoleh keuntungan yang lumayan. Bisa menambah belanjaku sekaligus mengisi waktu soreku yang sekarang kosong, karena beberapa bulan yang lalu aku tidak lagi mengaji di TPA dekat rumah karena sudah “Khatam Qur’an”.
“Abangku Agus, ternyata juga suka dengan pisang kreasiku. Dia adalah pembeli pertama, saat pertama kali aku mulai menjual pisang kreasi. Ide ini kudapat di sekolah. Sepertinya membuatnya mudah dan murah. Aku bisa membuatnya di rumah dan bisa menjualnya ke teman-temanku. Bersama dengan Tessa, tetangga dan teman karibku yang masih kelas tiga SD, aku mulai menekuni berjualan ini. Anak-anak mulai berdatangan ke rumahku, dan aku sibuk menghiasi pisangku untuk kujual.”
***
Alvina Azwar (Epi), si “Gadis Penjual Pisang” masih kelas enam di SDN 06 Balai-balai Padang panjang. Si bungsu dan perempuan satu-satunya di keluarga kami. Dia begitu tekun menjual pisang kreasinya. Kupikir adikku ini cuma bisa bertahan beberapa hari, namun tak disangka saat aku pulang ke Padang panjang minggu selanjutnya, dia masih bertahan menjual pisang kreasi tersebut. Uang belanjanya dari ayah Rp. 7000 rupiah sehari. Rp. 2000 digunakannya untuk ongkos ojek ke sekolah sedangkan Rp. 5000, digunakannya untuk modal pisang kreasinya.
“Tetap semangat my Sister, pupuk terus jiwa wirausahamu. Jangan dengar suara-suara pesimis yang mematahkan semangatmu. Ingat, Ibu kita. Saat hari kepergian beliau selamanya-lamanya, beliau masih menyempatkan diri berdagang ke daerah lain dengan segenap rasa sakit yang beliau derita. Hal itu dilakukannya hanya untuk kita, anak-anaknya. ”
“Jiwa semangat kerasnya akan selalu menghiasi hari-hari kita, Allahuakbar…”