Alloh SWT berfirman : ” Bertaqwalah kepada Alloh menurut ukuran kemampuanmu ” (QS. At-Taghabun:16).
Ini berarti bahwa Alloh mengetahui keterbatasan kita sebagai manusia dan dalam keterbatasan itulah Ia ingin kita berislam. Nabi Muhammad SAW bersabda, ” Alloh merahmatti seseorang yang menegtahui kadar kemampuan dirinya. ” Dengan menegtahui kadar kemampuan diri sendiri, kita bisa memposisikan diri secara tepat dalam berbagai situasi kehidupan.
Perintah-perintah dalam Islam begitu banyak , seperti menuntut ilmu, beribadah, ibadah mahdhah, belajar, berjihad dan sebagainya. Tidak semua perintah dapat kita lakuakan dengan cara yang expert, sempurna. Oleh karena itu di surga disediakan banyak pintu, salah satunya adalah pintu ibadah shalat, zakat, haji, dan seterusnya. Dan karena batas kemampuan itulah mengharuskan kita untuk memilih fokus tertentu dalam kehidupan kita.
Dalam suatu dialog antara Abu Bakar dan Rasulullah, Beliau mengatakan bahwa sesungguhnya di suraga itu ada banyak pintu dan setiap orang nanti ada yang msuk melalui pintu shalat, puasa dan sebagainya. Kemudian Abu Bakar bertanya, ”Adakah orang yang masuk melalui semua pintu itu?” Rasulullah menjawab, ”Ada, dan aku berharap kamu adalah salah seorang di antaranya.”
Jadi setiap manusia memiliki 2 ciri keterbatasan :
1.Sifat parsial (artinya kita tidak bisa memiliki/menguasai segala bidang)
2.Dalam lingkar yang sangat parsial itu kemampuan kita juga terbatas. Misalnya dalam bidang kedokteran, kita memiliki kelebihan dibanding lainnya, namun kita pun tetap saja terbats dalam penguasaan bidang kedokteran itu.
Dalam konteks keterbatasan itulah Alloh mengatakan dalam QS.Al Baqarah 2:286, ” Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya,” Hanya saja ibadah-ibadah yang sudah tetap waktu dan kapasitasnya seperti shalat lima waktu, Alloh telah mengukur kemampuan manusia dan pada dasarnya manusia memang sanggup melakukannya. Sebab semua perintah yang sifatnya wajib khususnya fardhu ’ain dan waktunya sudah ditentukan, dalam perhitungan Alloh pasti manusia bisa melakukannya. Oleh karena iru perintah-perintah dibuat dalam urutan-urutannya.
Sabda Rasululloh di atas berguna bagi kita untuk :
1.Menentukan fokus-fokus nilai Islam yang akan diperkuat
2.Memahami diri kita dan membantu dalam menentukan posisi kehidupan sosial.
Kesalahan orang dalam bergaul adalah karena ketidakmampuan dalam memposiskan dirinya dalam kehidupan sosial. Ini merupakan kesalahan umum. Jadi dengan demikian memahami keterbatasan diri adalah bagian dari perintah Islam.
Kesan yang ada selama ini dalam benak orang-orang muslim adalah semua urusan pengembangan diri adalah urusan psikologi dan sekolah pengembangan diri. Padahal, justru Islam sangat menganjurkan dan menekankan masalah ini pada awlnya. Karena itu ada yang menarik pada sejarah Islam. Umar memiliki fisik yang besar, jago berkelahi dan perang, tetapi tidak pernah sekalipun ditunjuk menjadi pemimpin perang. Usamah yang berusia 16 tahun pernah ditugaskan memimpin perang. Mengapa? Karena Umar tidak hanya bisa memimpin pasukan perang tapi juga negara, dan untuk itulah ia disiapkan.
Jadi orang yang memiliki kualiatas A jangan diberi tugas B. Jika kita memilki kualitas B, yang akan dipertanggungjawabkan kepada Alloh adalah apakah kita benar-benar mencapai kualitas B itu dengan baik? Alloh tidak akan menuntut kita untuk mencapai kualitas A. Tetapi jika kita mempunyai kualitas A, tapi hasilnya B, maka selisih A dan B hasilnya dosa. Dan masalahnya sekarang adalah bagaimana mengetahui bahwa ada selisih antara kualitas A dan B?
Disadur dari blognya Aang Fahruroji,S.Si posted @ Friday, December 23, 2005
(Maaf, tulisannya di ambil karena tulisan ini membuat ku sadar siapa diriku)