Padang panjang, kota kelahiranku ini selalu diliputi dengan cuaca dingin. Seminggu yang lalu saat bangun di pagi hari aku harus berusaha keras menghangatkan diri untuk shalat subuh di Mushala Al Amin dekat rumahku. cuaca dingin ini berlanjut pada hari-hari berikutnya. Hujan gerimis pada pagi hari selalu menyurutkan keinginanku untuk membersihkan teras rumah yang telah berlumut. Memang beberapa bulan ini aku tidak mau membersihkannya, apalagi saudara-saudaraku di rumah, dengan kesibukan mereka masing-masing, mereka tidak mempunyai waktu untuk membersihkannya. Jadinya saat aku pulang dan tidak ada kegiatan, aku yang membersihkan. Alhamdulilah semuanya selesai sabtu kemarin dan akupun juga membuat taman kecil di samping kanan rumah, agar adikku Alvi bisa menanam bunga di sana.
Seharusnya aku telah berada di Padang malam ini, namun karena masih ingin di rumah, aku tidak jadi berangkat. Masa liburan ini aku mengambil semester pendek untuk mata kuliah Kimia Anorganik 1 dari hari Senin sampai Jumat jam 1 Siang, bahkan Kamis kemarin adalah ujian mid, namun aku tidak dapat informasi dari teman-teman, sehingga aku tidak mengikuti ujian mid tersebut. Mudah-mudahan Pak Yusri Gondok, dosenku yang baik hati mau memberikan ujian susulan.
Kamis, 26 Juli 2007 aku pergi ke Bukittinggi, ke SMF YIB, sekolahku dulu untuk menghadiri acara MAPERSI (Masa Perkealan Siswa). Padahal pagi itu aku tidak ada rencana sama sekali untuk pergi kemanapun, namun sekitar jam 09.30, ada sms yang masuk ke HPku dari salah seorang teman seangkatanku di SMF angkatan 2000 bernama Robi. SMSnya berisi kalau sekarang ada ospek anak baru dan alumni telah banyak yang datang. Aku masih malas untuk berangkat. karena malu, sudah empat tahun aku tidak ke sana. Ku balas "Ada acara apa?" Tak lama setelah itu Robi membalas " Sekarang kan acara Mapersi dan yang paling banyak datang alumni dari angkatan 2000. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap, dan langsung menuju Bukittinggi. Aku memasuki gerbang sekolah dan melihat adik-adik smf yang berseragam putih-biru muda. Seragam kami untuk hari Rabu-kamis.
Di sekolah aku masih gugup untuk bertemu dengan temanku. Ajo, salah seorang temanku, ku telepon untuk menjemputku di dekat gerbang. Sejak tadi pagi dia telah berada di sekolah. Dia berangkat dengan beberapa teman dari Padang. Dengan agak keberatan dia menjemputku karena dia berpikiran, mengapa harus malu?!. Bersama Ajo, aku langsung menuju aula yang berisi alumni dan lebih kurang 80 siswa baru SMF YIB yang duduk di lantai. Teman-teman alumni terkejut dengan kedatanganku. Aku berusaha tenag dan langsung duduk di dekat salah seorang temanku se kos dulu waktu di SMF, Rife Gurhadi, Anak Payakumbuh. Disampingnya duduk M. Adlin Ridho dari Dangung-dangung, Joelimar Iriyanto dari Batusangkar, Devi dari Bukittinggi. Aku melepas rindu dengan teman-teman yang telah 4 tahun tidak bertemu. Kami terus berbincang-bincangm, tak peduli dengan adik-adik siswa baru syang duduk di lantai dengan menggunakan atribut yang banyak. Sekilas Mapersi yang mereka jalani tidak berbeda dengan Mapersi yang ku jalani pada tahun 2000. Atribut/nama suci turun temurun masih menghiasi kertas karton dengan tali yang melingkari dada dan punggung mereka. Ada kaca mata bolong sebelah, ada sedotan bayi, memakai sepatu di kaki kanan dan sandal di kaki kiri dan yang paling aneh tas mereka dari karton pembungklus mie. Secara garis besar tidak ada perubahan yang terjadi pada konsep acara. Aku perlahan mulai memperhatikan beberapa alumni yang sejak tadi cuap-cuap di depan Aula. Itu Dela, sama denganku dia kuliah di Unand, jurusannya Biologi. Ada Fadhriah, jurusan Farmasi Unand, ada Devi, yang kuliah di STIFI, ada Ami Raudhah, ada Anti, Mega dan masih banyak lagi alumni yang tidak ku kunali, karena beda angkatan.
Perlahan aku menghentikan pembicaraan dengan teman-temanku dan aku memperhatikan adik-adik yang sedang di Mapersi. Mereka tampak ketakutan. Aku baru tahu kalau sekarang adalah sesi untuk alumni. Waktu aku masih di Mapersi dulu, sesi ini adalah sesi yang paling ditakuti. Apalagi alumni yang datang sangat banyak sekali. Siswa-siswa ini sangat berbeda sekali dengan mahasiswa. Kalau mahasiswa sedikit banyaknya akan menolak jika disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak pantas, beda halnya dengan siswa-siswa ini. Mereka menuruti apa saja yang disuruh. Ada yang mengamen, ada yang merangkak di lantai, ada yang berjoged di depan, yang ku pikir mereka tidak pantas melakukannya, ada juga yang disuruh minta-minta di dalam Aula tersebut. Aku mendekati mereka, dan menghentikan salah saorang dari mereka yang sedang merangkak. Wajah ketakutan itu sekarang menghadap kepadaku. Lalu aku bertanya. " Kok nio se disuruah marangkak kayak tu??. Dia menjawab " Disuruah jo uni tu da" dan wajah menyedihkan. "Amuah se disuruah-suruah kayak gitu?" lanjutku. "Awak takuik da", jawabnya. Dia langsung minta permisi untuk merangkak. Ku biarkan saja. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan tersebut, aku terlambat datang dan takutnya menyinggung perasaan teman-teman itu yang sudah datang dari tadi.
Aku berusaha mencari solusi agar konsep mapersi ini dapat diubah. Tidak ada lagi atribut-atribut seperti itu, tidak ada lagi acara marah-marah. Aku ingin suatu saat nanti Mapersi adalah acara yang berisi pelatihan-pelatihan pengembangan diri atau seperti ESQ Training. Namun hal ini tidak bisa langsung di ubah, karena budaya ini sangat melekat dalam diri anak SMF ditambah lagi acara seperti ini mendapat restu dari jajaran guru SMF. Perlahan aku ingin merubahnya.
Aku berusaha menenangkan diri dan teringat pada penjaga sekolah dan penjaga kantin sekolah, Da Sal. Aku langsung menuju bagian belakang sekolah dan bertemu dengan Si Mbak, istri da Sal dan dia menawarkan minuman kepadaku. Namun aku menolaknya sopan dan permisi ke kamar mandi untuk berwudhu shalat Zuhur. Mushalla dipenuhi oleh siswa baru yang sakit, jadinya aku shalat di ruangan shalatnya Tata Usaha.
Selesai shalat aku bincang-bincang dengan adik-adik kelas 2 di sebuah kelas dekat ruang tata usaha. Mereka baru akan mengalami masa-masa sulit di SMf. Kelas 2 adalah kelas dengan mata pelajaran terbanyak. Untuk semester ganjil ada 22 buah mata pelajaran dan semester genap akan ada 27 mata pelajaran. Kimia Organik adalah pelajaran paling sulit di kelas ini, diikuti farmakologi.
Rife dan M. Adlin Ridho mendatangiku dari Aula. ternyata Bulan April 2007 kemaren ibu Rife meninggal setelah 1,5 tahun berkutat dengan kanker payudara. Aku turut bersedih. "Urusan rumah siapa yang ngurus Gus? tanyanya membuka perbincangan, dia tahu Ibuku juga telah meninggal pada 31 Oktober 2006 yang lalu. "Ada ayah dan adik". Jawabku. "Susah ya kalau tidak ada Ibu" lanjutnya. Aku mengiyakan, karena demikianlah halnya. Ibu M. Adlin juga telah meninggal, kira-kira sebulan lebih dulu dari Ibuku. Ternyata 4 dari 5 orang diantara kami yang sekamar selama 3 tahun telah kehilangan Ibu masing-masing dalam waktu yang berdekatan. Aku sekamar dengan Rife, M.Adlin, Ajo, dan Meiji. Cuma meiji yang Ibunya masih hidup. Perbincangan berlanjut dengan kegiatan kami masing-masing. Mulai dengan keadaan kuliahku, Rife dan M. Adlin Ridho yang bekerja di apotik yang sama yaitu di apotik Bakti Husada, Payakumbuh, dan topik lainnya.
Perutku mulai lapar begitupun dengan teman-temanku. Kami sepakat makan di Kedai "Suduik Manih" yang berada di dekat gerbang SMF. Kedai ini mengingatkan kami akan masa-masa lalu, saat di SMF kami sering makan nasi di sini atau hanya sekedar beli sambal atau lauk saja. Jam 3 kamipun berpisah dan mudah-mudahan dapat bertemu lagi di lain waktu. Aku berjanji pada M.Adlin Ridho untuk pergi ke Batam bersama, saat liburan nanti, untuk mengunjungi Ilham (Meiji) yang menurut kabarnya telah memiliki rumah sendiri di Batam.