Ciek, duo, Tigo, Ampek, Limo, Anam, tujuah, lapan, sambilan, sapuluah. Alaaaah..!. Suasana sunyi saat Riko membuka matanya dari sebuah tembok Masjid, tempat dimulainya permainan “Cik Mancik”. Semua temannya sudah berada di tempat persembunyian mereka. Di atas sebuah tiang ada seorang anak yang bersembunyi. ”Jhon!’ lantang suara Riko menyebut nama anak yang sedari tadi bersembunyi di atas tiang yang agak gelap itu dan langsung menuju posko permainan di dinding masjid untuk menandakan kalau Jhon telah tertangkap. Ada bunyi klontang di dekat sebuah bekas tugu dari seng. Riko perlahan mendekati tempat itu. Disaat Riko telah berada disana tak ada lagi suara. Ternyata itu hanya jebakan. Ada beberapa anak yang berlarian mendekati posko cik mancik tanpa sepengetahuan Riko. Riko pun kecewa…, sedangkan anak-anak yang lain tertawa dengan riangnya.
Aku mengamati mereka dari sebuah tangga masjid menunggu masuknya waktu shalat Isya. Aku teringat masa kecilku dulu. Permainan inilah yang paling ku sukai dari sekian banyak permainan pada masa itu. Biasanya saat ada acara ata di bulan Ramadhan, pada malam hari anak-anak keluar rumah untuk bermain. Betapa bahagianya saat itu.