Sekitar pukul setengah sebelas siang, kamis 5 Juli 2007, aku, Ibnu dan beberapa orang saudaraku berada di sebuah bukit tempat ibuku dimakamkan. Tumbuhan liar yang tingginya hampir menyamai tinggiku, menyiratkan kalau pemakaman keluarga itu tidak terurus dengan baik sejak aku tinggalkan bulan November 2006 yang lalu saat Ibu dimakamkan. Bersama-sama kami berusaha memotong tumbuhan liar yang berada di sekitar pemakaman dan memberikan batas makam ibuku dengan tumbuhan "puding". Masing-masing dari kami berusaha untuk menutupi kesedihan kehilangan seorang Ibu yang sangat kami cintai. Wajah sendu adikku yang paling kecil, Alvina menyadarkanku bahwa dia sangat kehilangan ibu. Aku teringat ketika seorang nenek, tetangga di dekat rumah, menceritakan kenangan beliau pada saat shalat Ied Lebaran tahun 2006. Setelah shalat Ied, Ibu mendekap Alvina erat-erat dan lama sekali, sehingga si nenek merasa heran. Hal ini baru diceritakan nenek itu, ketika seminggu setelah shalat Ied, Ibu meninggal. Mungkin Ibu telah mempunyai firasat untuk meninggalkan kami semua dan Alvina, anak perempuan satu-satunya.
Setelah membersihkan pemakaman tersebut, aku mengajak saudaraku yang lainnya untuk mendo’akan Ibu agar beliau diberi ketenangan dan kelapangan di alam sana. Aku berusaha untuk menahan kesedihanku agar adik-adikku tidak bertambah sedih. Ziarah ini meyakinkanku bahwa aku juga akan menjalani salah satu fase kehidupan ini nantinya. Pukul setengah dua belas kamipun beranjak meninggalkan pemakaman tersebut.
"Lubuk Lundang", sebuah maha karya Sang Pencipta, menghilangkan semua kesedihan itu. Sebuah sungai dengan air yang jernih membuatku takjub dan serasa ingin menyegarkan diri dengan mencebur ke dalamnya. Kesempatan untuk meloncat dari sebuah batu besar yang menghias sungai tidak kusia-siakan. Sekedar untuk merasakan kesejukan air dan juga untuk menguji nyaliku untuk dapat loncat dari tempat yang tinggi ke kedalaman air. Makan siangpun dilakukan disana. Kami dibekali oleh One, bibiku dengan semangkok nasi, ikan balado dan kerupuk. Diiringi suara aliran air, kami menghabiskan bekal-bekal itu dengan cepat tak bersisa. Menjelang Ashar, kami habiskan dengan mencebur ke dalam sungai dan sesekali mengajar Alvina berenang.
Aku berangkat kembali ke Padang bersama Ibnu, temanku setelah melakukan doa syukuran di rumah one dengan menjinjing sebuah karton berisi dua buah durian untuk teman-teman di Padang.