July 30, 2007
Padang panjang, kota kelahiranku ini selalu diliputi dengan cuaca dingin. Seminggu yang lalu saat bangun di pagi hari aku harus berusaha keras menghangatkan diri untuk shalat subuh di Mushala Al Amin dekat rumahku. cuaca dingin ini berlanjut pada hari-hari berikutnya. Hujan gerimis pada pagi hari selalu menyurutkan keinginanku untuk membersihkan teras rumah yang telah berlumut. Memang beberapa bulan ini aku tidak mau membersihkannya, apalagi saudara-saudaraku di rumah, dengan kesibukan mereka masing-masing, mereka tidak mempunyai waktu untuk membersihkannya. Jadinya saat aku pulang dan tidak ada kegiatan, aku yang membersihkan. Alhamdulilah semuanya selesai sabtu kemarin dan akupun juga membuat taman kecil di samping kanan rumah, agar adikku Alvi bisa menanam bunga di sana.
Seharusnya aku telah berada di Padang malam ini, namun karena masih ingin di rumah, aku tidak jadi berangkat. Masa liburan ini aku mengambil semester pendek untuk mata kuliah Kimia Anorganik 1 dari hari Senin sampai Jumat jam 1 Siang, bahkan Kamis kemarin adalah ujian mid, namun aku tidak dapat informasi dari teman-teman, sehingga aku tidak mengikuti ujian mid tersebut. Mudah-mudahan Pak Yusri Gondok, dosenku yang baik hati mau memberikan ujian susulan.
Kamis, 26 Juli 2007 aku pergi ke Bukittinggi, ke SMF YIB, sekolahku dulu untuk menghadiri acara MAPERSI (Masa Perkealan Siswa). Padahal pagi itu aku tidak ada rencana sama sekali untuk pergi kemanapun, namun sekitar jam 09.30, ada sms yang masuk ke HPku dari salah seorang teman seangkatanku di SMF angkatan 2000 bernama Robi. SMSnya berisi kalau sekarang ada ospek anak baru dan alumni telah banyak yang datang. Aku masih malas untuk berangkat. karena malu, sudah empat tahun aku tidak ke sana. Ku balas "Ada acara apa?" Tak lama setelah itu Robi membalas " Sekarang kan acara Mapersi dan yang paling banyak datang alumni dari angkatan 2000. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap, dan langsung menuju Bukittinggi. Aku memasuki gerbang sekolah dan melihat adik-adik smf yang berseragam putih-biru muda. Seragam kami untuk hari Rabu-kamis.
Di sekolah aku masih gugup untuk bertemu dengan temanku. Ajo, salah seorang temanku, ku telepon untuk menjemputku di dekat gerbang. Sejak tadi pagi dia telah berada di sekolah. Dia berangkat dengan beberapa teman dari Padang. Dengan agak keberatan dia menjemputku karena dia berpikiran, mengapa harus malu?!. Bersama Ajo, aku langsung menuju aula yang berisi alumni dan lebih kurang 80 siswa baru SMF YIB yang duduk di lantai. Teman-teman alumni terkejut dengan kedatanganku. Aku berusaha tenag dan langsung duduk di dekat salah seorang temanku se kos dulu waktu di SMF, Rife Gurhadi, Anak Payakumbuh. Disampingnya duduk M. Adlin Ridho dari Dangung-dangung, Joelimar Iriyanto dari Batusangkar, Devi dari Bukittinggi. Aku melepas rindu dengan teman-teman yang telah 4 tahun tidak bertemu. Kami terus berbincang-bincangm, tak peduli dengan adik-adik siswa baru syang duduk di lantai dengan menggunakan atribut yang banyak. Sekilas Mapersi yang mereka jalani tidak berbeda dengan Mapersi yang ku jalani pada tahun 2000. Atribut/nama suci turun temurun masih menghiasi kertas karton dengan tali yang melingkari dada dan punggung mereka. Ada kaca mata bolong sebelah, ada sedotan bayi, memakai sepatu di kaki kanan dan sandal di kaki kiri dan yang paling aneh tas mereka dari karton pembungklus mie. Secara garis besar tidak ada perubahan yang terjadi pada konsep acara. Aku perlahan mulai memperhatikan beberapa alumni yang sejak tadi cuap-cuap di depan Aula. Itu Dela, sama denganku dia kuliah di Unand, jurusannya Biologi. Ada Fadhriah, jurusan Farmasi Unand, ada Devi, yang kuliah di STIFI, ada Ami Raudhah, ada Anti, Mega dan masih banyak lagi alumni yang tidak ku kunali, karena beda angkatan.
Perlahan aku menghentikan pembicaraan dengan teman-temanku dan aku memperhatikan adik-adik yang sedang di Mapersi. Mereka tampak ketakutan. Aku baru tahu kalau sekarang adalah sesi untuk alumni. Waktu aku masih di Mapersi dulu, sesi ini adalah sesi yang paling ditakuti. Apalagi alumni yang datang sangat banyak sekali. Siswa-siswa ini sangat berbeda sekali dengan mahasiswa. Kalau mahasiswa sedikit banyaknya akan menolak jika disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak pantas, beda halnya dengan siswa-siswa ini. Mereka menuruti apa saja yang disuruh. Ada yang mengamen, ada yang merangkak di lantai, ada yang berjoged di depan, yang ku pikir mereka tidak pantas melakukannya, ada juga yang disuruh minta-minta di dalam Aula tersebut. Aku mendekati mereka, dan menghentikan salah saorang dari mereka yang sedang merangkak. Wajah ketakutan itu sekarang menghadap kepadaku. Lalu aku bertanya. " Kok nio se disuruah marangkak kayak tu??. Dia menjawab " Disuruah jo uni tu da" dan wajah menyedihkan. "Amuah se disuruah-suruah kayak gitu?" lanjutku. "Awak takuik da", jawabnya. Dia langsung minta permisi untuk merangkak. Ku biarkan saja. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan tersebut, aku terlambat datang dan takutnya menyinggung perasaan teman-teman itu yang sudah datang dari tadi.
Aku berusaha mencari solusi agar konsep mapersi ini dapat diubah. Tidak ada lagi atribut-atribut seperti itu, tidak ada lagi acara marah-marah. Aku ingin suatu saat nanti Mapersi adalah acara yang berisi pelatihan-pelatihan pengembangan diri atau seperti ESQ Training. Namun hal ini tidak bisa langsung di ubah, karena budaya ini sangat melekat dalam diri anak SMF ditambah lagi acara seperti ini mendapat restu dari jajaran guru SMF. Perlahan aku ingin merubahnya.
Aku berusaha menenangkan diri dan teringat pada penjaga sekolah dan penjaga kantin sekolah, Da Sal. Aku langsung menuju bagian belakang sekolah dan bertemu dengan Si Mbak, istri da Sal dan dia menawarkan minuman kepadaku. Namun aku menolaknya sopan dan permisi ke kamar mandi untuk berwudhu shalat Zuhur. Mushalla dipenuhi oleh siswa baru yang sakit, jadinya aku shalat di ruangan shalatnya Tata Usaha.
Selesai shalat aku bincang-bincang dengan adik-adik kelas 2 di sebuah kelas dekat ruang tata usaha. Mereka baru akan mengalami masa-masa sulit di SMf. Kelas 2 adalah kelas dengan mata pelajaran terbanyak. Untuk semester ganjil ada 22 buah mata pelajaran dan semester genap akan ada 27 mata pelajaran. Kimia Organik adalah pelajaran paling sulit di kelas ini, diikuti farmakologi.
Rife dan M. Adlin Ridho mendatangiku dari Aula. ternyata Bulan April 2007 kemaren ibu Rife meninggal setelah 1,5 tahun berkutat dengan kanker payudara. Aku turut bersedih. "Urusan rumah siapa yang ngurus Gus? tanyanya membuka perbincangan, dia tahu Ibuku juga telah meninggal pada 31 Oktober 2006 yang lalu. "Ada ayah dan adik". Jawabku. "Susah ya kalau tidak ada Ibu" lanjutnya. Aku mengiyakan, karena demikianlah halnya. Ibu M. Adlin juga telah meninggal, kira-kira sebulan lebih dulu dari Ibuku. Ternyata 4 dari 5 orang diantara kami yang sekamar selama 3 tahun telah kehilangan Ibu masing-masing dalam waktu yang berdekatan. Aku sekamar dengan Rife, M.Adlin, Ajo, dan Meiji. Cuma meiji yang Ibunya masih hidup. Perbincangan berlanjut dengan kegiatan kami masing-masing. Mulai dengan keadaan kuliahku, Rife dan M. Adlin Ridho yang bekerja di apotik yang sama yaitu di apotik Bakti Husada, Payakumbuh, dan topik lainnya.
Perutku mulai lapar begitupun dengan teman-temanku. Kami sepakat makan di Kedai "Suduik Manih" yang berada di dekat gerbang SMF. Kedai ini mengingatkan kami akan masa-masa lalu, saat di SMF kami sering makan nasi di sini atau hanya sekedar beli sambal atau lauk saja. Jam 3 kamipun berpisah dan mudah-mudahan dapat bertemu lagi di lain waktu. Aku berjanji pada M.Adlin Ridho untuk pergi ke Batam bersama, saat liburan nanti, untuk mengunjungi Ilham (Meiji) yang menurut kabarnya telah memiliki rumah sendiri di Batam.
July 21, 2007

Putra Manggala Pratama, lahir 22 Juli 2006. Anak pertama dari Udaku tertua, Oyong Liza
I miss U so much. Afwan jika saat Ulang tahunmu, "Pak Ngah’ ndak bisa datang.

Selamat Ulang tahun…………… Semoga Putra menjadi Anak yang sholeh dan berbakti pada orang tua.
July 12, 2007
Ciek, duo, Tigo, Ampek, Limo, Anam, tujuah, lapan, sambilan, sapuluah. Alaaaah..!. Suasana sunyi saat Riko membuka matanya dari sebuah tembok Masjid, tempat dimulainya permainan “Cik Mancik”. Semua temannya sudah berada di tempat persembunyian mereka. Di atas sebuah tiang ada seorang anak yang bersembunyi. ”Jhon!’ lantang suara Riko menyebut nama anak yang sedari tadi bersembunyi di atas tiang yang agak gelap itu dan langsung menuju posko permainan di dinding masjid untuk menandakan kalau Jhon telah tertangkap. Ada bunyi klontang di dekat sebuah bekas tugu dari seng. Riko perlahan mendekati tempat itu. Disaat Riko telah berada disana tak ada lagi suara. Ternyata itu hanya jebakan. Ada beberapa anak yang berlarian mendekati posko cik mancik tanpa sepengetahuan Riko. Riko pun kecewa…, sedangkan anak-anak yang lain tertawa dengan riangnya.
Aku mengamati mereka dari sebuah tangga masjid menunggu masuknya waktu shalat Isya. Aku teringat masa kecilku dulu. Permainan inilah yang paling ku sukai dari sekian banyak permainan pada masa itu. Biasanya saat ada acara ata di bulan Ramadhan, pada malam hari anak-anak keluar rumah untuk bermain. Betapa bahagianya saat itu.
"Selamat ya, udah lulus "komprei", ucapku pada seorang teman bernama Mita. Mita merupakan lulusan pertama di angkatan kami, TNT CO3 (Tholib ‘n Tholibah Chemistry 03 Unand) yang telah menyelesaikan semuanya untuk meraih gelar S1. Sambil hati-hati aku menjaga tanganku agar tidak bersalaman secara langsung dengannya. Namun diluar dugaanku, dia mengerti dan tidak menjabat tanganku, hanya bersalaman jarak jauh. "Terima kasih" jawabnya sambil berlalu.
Kondisi di atas sangat berbeda dengan sebelumnya, saat aku menolak untuk berjabatan tangan dengan seorang cewek bernama Sil. Saat itu pamflet ucapan selamat bertebaran di mading kampus FMIPA Unand. Pamflet itu menyampaikan imformasi kepada masyarakat MIPA bahwa aku menjabat ketua LP2I FMIPA Unand yang baru periode 2006-2007. Saat memasuki ruangan kuliah, teman-teman mengucapkan selamat dengan mengacungkan tangan mereka untuk berjabat tangan denganku. Namun aku hanya meletakkan tanganku di depan dada tapi dengan yang laki-laki menjabatnya. Kebanyakan dari mereka yang cewek heran, "Agus kok berubah, masa jabatan tangan saja tidak mau?. dan yang paling ngotot adalah Sil. Dia terus memaksa untuk berjabatan tangan. "Apa salahnya?, Sil terus memaksa. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku menghormatinya sebagai seorang wanita yang tak layak disentuh oleh orang yang bukan muhrimnya. Jika aku mengatakan kalau kami bukan muhrim, mungkin dia akan marah. Karena selama ini pergaulan antara cewek dan cowok tidak ada jarak yang begitu jauh. "salaman dari jauh saja ya.." jawabku dengan lugu. Sil membalas dengan wajah cemberut.
Sejak itu aku terus memikirkan apa yang harus kulakukan untuk memberi pemahaman kepada mereka tentang bagaimana hubungan antara seorang laki-laki denagan seorang perempuan yang bukan muhrim. Pernah terpikir olehku untuk memberikan hadiah Novel Ayat-ayatnya cintanya- Habiburrahman El-Shirazy. Di novel ini, betapa hubungan laki-laki dan perempuan begitu dihormati, namun tidak menghilangkan romantisnya. Bagi laki-laki tidak merendahkan wibawanya sedangkan bagi perempuan tidak merendahkan kehormatannya. Apa jadinya jika seorang perempuan boleh saja dipegang-pegang oleh orang yang bukan muhrimnya, mungkin perempuan itu tidak ada artinya lagi.Namun sampai sekarang, ide itu tak pernah terjalankan.
July 7, 2007
Ruhiyah, bekal seorang da’i ???. Daurah Tarqiyah tadi siang dengan seorang ustadz membahas masalah ini. Betapa besar pengaruhnya terhadap perjuangan dakwah para Dai. Beberapa kisahpun mengalir dari mulut si Ustadz, dimulai dari kisah keyakinan dari pejuang dakwah Islam menembus hutan belantara untuk mengembangkan sayap dakwah di negeri Afrika pada masa khalifah Umar Bin Khattab. Kisah seorang gubernur yang meminta bantuan pasukan 3000 orang, namun khalifah Umar hanya mengirim 3 orang dengan tugas memperbaiki ruhiyah pasukan si gubernur. Ketakutan yang melanda pasukan musuh Islam dalam menghadapi seorang pejuang Afghanistan dengan ruhiyah yang kuat yang membuat mereka lari terbirit-birit. Semua kisah diatas berkaitan erat dengan ruhiyah. Aku sulit mendefinisikan apa makna ruhiyah tersebut, apakah sebuah dorongan motivasi yang kuat dari dalam diri untuk berjuang? Apakah sebuah keyakinan yang membuat seseorang begitu bersemangat untuk memperjuangkan apa yang diyakininya? Aku tak bisa mendefinisikan layaknya seseorang yang berteori.
July 6, 2007

Penulis : Dan Brown
Halaman : 632
Penerbit : Serambi
Sinopsis :
Saat di Paris, pakar simbologi Harvard, Robert Langdon, menerima telepon tengah malam yang penting. Seorang kurator senior di Museum Louvre terbunuh, dan pesan-pesan rahasia yang mengherankan ditemukan dekat tubuhnya. Ketika Langdon dan seorang kryptolog (pemecah kode) berbakat Prancis, Sophie Neveu, mengupas lapis demi lapis teka-teki aneh itu, mereka terpana menemukan serangkaian petunjuk tersembunyi di balik karya-karya terkenal Leonardo Da Vinci?petunjuk-petunjuk yang tampak agar dilihat semua orang tapi sengaja disamarkan dengan jenius oleh sang pelukis.
Situasi menjadi semakin menegangkan ketika Langdon menemukan sebuah kaitan mengejutkan: mendiang kurator itu terlibat dalam Priory of Sion—sebuah masyarakat rahasia yang nyata, yang beranggotakan antara lain Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Da Vinci. Langdon dan Sophie menjadi buruan internasional, secara tak terduga harus berhadapan dengan seseorang yang tak tampak tapi amat berkuasa. Mereka harus memecahkan labirin teka-teki itu. Jika gagal, rahasia Priory—sebuah kebenaran kuno yang dapat mengguncang dunia—akan hilang selamanya.

Penulis : Abbas As-Siisiy
Halaman : 282
Penerbit : Era Intermedia
Perhatikan tongkat sinyal di stasiun kereta api. Dengan menggerakkannya sedikit, rel akan bergeser, dan perjalanan kereta api pun berubah arah. Demikian halnya dengan hati. Gerak hati akan menentukan arah kehidupan seseorang. Ia demikian menentukan. “Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh,” demikian sabda Rasulullah Saw. mengenai hati.
Dakwah sesungguhnya berorientasi mengubah arah kehidupan umat manusia; dari kebatilan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju cahaya, dari keran-cuan menuju kejelasan. Semua itu bermula dari hati. Keberhasilan dan kegagalan dakwah semata-mata tergantung dari bagaimana seorang dai menyentuh hati objek dakwahnya.
Dalam Buku ini, Syaikh Abbas As-Siisiy, seorang dai yang berpengalaman, memberikan berbagai uraian tentang dakwah secara unik. Yakni dengan mengang-kat berbagai kisah, mulai dari kisah para sahabat ber-sama Rasulullah Saw. hingga kisah pengalamannya dalam berinteraksi dengan medan dakwah, baik yang dialami sendiri maupun yang disaksikannya.
Dari kisah-kisah nyata itulah beliau mengambil beberapa hikmah dan pelajaran yang sangat berman-faat bagi kita semua, para penyeru dakwah Islam.
Penulis : Najib Khaelani
Halaman : 400
Penerbit : Era Publishing
Sinopsis : Nabila yang cantik dan cerdas itu baru tahu ternyata ada dunia lain yang sangat keji dan mengerikan di luar batas kemanusiaan. Dunia kelam yang bisa membuat anak kecil mendadak beruban, bila menyaksikannya. Pengalaman pahit itu dialaminya setelah ia bertunangan dengan Letkol. Athwa Al-Malwani, seo-rang Kepala Penjara Perang. Di balik pe-nampilannya yang lembut, ternyata Athwa menyimpan perangai kejam dan biadab.
Berbagai intrik dan teror berkedok demi menyelamatkan negara dilancarkan Athwa, akibat penolakan Nabila, sempat membuat gadis itu terpuruk. Akhirnya dengan penuh keberanian gadis yang berbobot tak lebih dari 50 kilo ini bangkit melawan kezaliman, sehingga mampu mempecundangi Athwa dan membuat-nya kelimpungan.
Sekitar pukul setengah sebelas siang, kamis 5 Juli 2007, aku, Ibnu dan beberapa orang saudaraku berada di sebuah bukit tempat ibuku dimakamkan. Tumbuhan liar yang tingginya hampir menyamai tinggiku, menyiratkan kalau pemakaman keluarga itu tidak terurus dengan baik sejak aku tinggalkan bulan November 2006 yang lalu saat Ibu dimakamkan. Bersama-sama kami berusaha memotong tumbuhan liar yang berada di sekitar pemakaman dan memberikan batas makam ibuku dengan tumbuhan "puding". Masing-masing dari kami berusaha untuk menutupi kesedihan kehilangan seorang Ibu yang sangat kami cintai. Wajah sendu adikku yang paling kecil, Alvina menyadarkanku bahwa dia sangat kehilangan ibu. Aku teringat ketika seorang nenek, tetangga di dekat rumah, menceritakan kenangan beliau pada saat shalat Ied Lebaran tahun 2006. Setelah shalat Ied, Ibu mendekap Alvina erat-erat dan lama sekali, sehingga si nenek merasa heran. Hal ini baru diceritakan nenek itu, ketika seminggu setelah shalat Ied, Ibu meninggal. Mungkin Ibu telah mempunyai firasat untuk meninggalkan kami semua dan Alvina, anak perempuan satu-satunya.
Setelah membersihkan pemakaman tersebut, aku mengajak saudaraku yang lainnya untuk mendo’akan Ibu agar beliau diberi ketenangan dan kelapangan di alam sana. Aku berusaha untuk menahan kesedihanku agar adik-adikku tidak bertambah sedih. Ziarah ini meyakinkanku bahwa aku juga akan menjalani salah satu fase kehidupan ini nantinya. Pukul setengah dua belas kamipun beranjak meninggalkan pemakaman tersebut.
"Lubuk Lundang", sebuah maha karya Sang Pencipta, menghilangkan semua kesedihan itu. Sebuah sungai dengan air yang jernih membuatku takjub dan serasa ingin menyegarkan diri dengan mencebur ke dalamnya. Kesempatan untuk meloncat dari sebuah batu besar yang menghias sungai tidak kusia-siakan. Sekedar untuk merasakan kesejukan air dan juga untuk menguji nyaliku untuk dapat loncat dari tempat yang tinggi ke kedalaman air. Makan siangpun dilakukan disana. Kami dibekali oleh One, bibiku dengan semangkok nasi, ikan balado dan kerupuk. Diiringi suara aliran air, kami menghabiskan bekal-bekal itu dengan cepat tak bersisa. Menjelang Ashar, kami habiskan dengan mencebur ke dalam sungai dan sesekali mengajar Alvina berenang.
Aku berangkat kembali ke Padang bersama Ibnu, temanku setelah melakukan doa syukuran di rumah one dengan menjinjing sebuah karton berisi dua buah durian untuk teman-teman di Padang.
Saat dikatakan dalam Al Qur’an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:
"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna." (Al Qur’an, 75:3-4)
Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.
Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.
Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.